Edisi Perdana, PB Perbasi Langsung Nobatkan sebagai Camp Terbaik
DBL Indonesia terus menciptakan prestasi membanggakan di basket tanah air. Penataran wasit yang mereka selenggarakan, Honda National Referee Camp, dinobatkan PB Perbasi sebagai camp pengadil terbaik di tanah air.
—
DBL Indonesia tidak hanya hebat dalam menyelenggarakan kompetisi basket pelajar. Kemarin (20/12) mereka sukses mengadakan penataran dan penyegaran wasit nasional, Honda National Referee Camp (HNRC). Dari even yang diselenggarakan di DBL Arena Surabaya sejak Rabu (16/12) sampai kemarin itu, lulus belasan wasit nasional berlisensi B1 yang kelak akan turut menentukan wajah basket tanah air.
Total, even penataran wasit pertama yang diselenggarakan DBL Indonesia itu diikuti 40 wasit. Sebanyak 34 peserta adalah wasit berlisensi B2 yang mengikuti penataran untuk mendapatkan lisensi B1. Sedangkan sisanya adalah wasit berlisensi B1 dan A yang mengikuti penyegaran. Hanya 15 di antara 34 peserta penataran yang lulus. Tingginya standar kelulusan ujian teori, fisik, dan praktik membuat banyak camper tidak lulus.
Tiga wasit di antara 15 yang lulus itu dinobatkan DBL Indonesia dan PB Perbasi sebagai camper terbaik. Mereka adalah Gun Gun Gunawan, A. Risky Heris Toteles, serta Purwohadi.
Sebagai hadiah dari DBL Indonesia, tiga camper tersebut tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar biaya lisensi yang besarnya mencapai ratusan ribu rupiah. Artinya, mereka mendapatkan untung ganda karena biaya penataran juga sudah digratiskan DBL Indonesia kepada seluruh camper.
Selain tiga orang itu, ada dua wasit lain yang mencatat prestasi menonjol. Yakni, Johan Christiana dan M. Zainal Zulkarnaen. Dua orang itu mendapatkan rekomendasi untuk mengikuti pelatihan lisensi A. Sebab, saat mengikuti penyegaran lisensi B1, mereka membukukan hasil yang bagus. Di tes teori, keduanya membukukan 80 poin. Sedangkan di tes fisik, mereka sama-sama menembus 86 poin.
“Ini adalah kado yang sangat indah buat ulang tahun saya,” terang Gun Gun yang terpilih sebagai wasit terbaik. Kemarin dia memang masih dalam suasana ulang tahun. Pria asli Sumedang, Jabar, itu berulang tahun ke-27 pada 19 Desember.
Edy Soeprayitno, salah seorang penatar, mengucapkan selamat kepada wasit yang dinyatakan lulus. Mantan wasit FIBA itu mengungkapkan, penilaian di HNRC dilakukan dengan fair. Artinya, wasit yang lulus memang tidak dikatrol.
“Penilaian ini fair. Kami tidak mungkin mengatrol nilai para peserta. Kalau memang tidak lulus, ya kami coret. Kebanyakan yang gagal memang di tes teori dan praktik,” ucap Edy.
PB Perbasi pun bangga dengan penyelenggaraan HNRC. Bahkan, tanpa ragu, mereka menyatakan bahwa program tersebut berjalan dengan sempurna. “Ini adalah program penataran wasit terbaik yang pernah ada di Indonesia. Semua dipersiapkan secara sempurna,” puji Julisa M. Rastafari, ketua Bidang (Kabid) III PB Perbasi.
Meski baru pertama diselenggarakan, HNRC mampu menyediakan fasilitas dan pola penataran yang profesional. “Kalau saya sedang butuh apa-apa, seluruh panitia cekatan. Fasilitas juga sangat oke, mewah bahkan,” puji Harja Jalardi, penatar lain yang saat ini masih aktif sebagai wasit FIBA. “Selain itu, acara ini tidak monoton. Misalnya, ada pembagian door prize. Di acara sebelumnya, tidak ada yang seperti ini,” tambahnya.
Julisa juga angkat topi terhadap DBL Indonesia yang berinisiatif melaksanakan kegiatan tersebut. Pasalnya, selama ini di daerah hanya pengprov yang meminta pelaksanaan program tersebut.
“Kepedulian dari DBL seperti inilah yang akan membuat basket di Indonesia semakin maju. Saya yakin, DBL tidak akan berhenti sampai di sini. Mungkin saja mereka akan menggelar program serupa di kemudian hari,” harap wanita yang akrab disapa Lisa tersebut.
Ketua Pengprov Perbasi Jatim Edi Djon Jacup juga mengucapkan terima kasih kepada DBL Indonesia yang sudah membantu pengembangan basket di Jawa Timur. Soal banyaknya wasit yang tidak lulus, dia menyatakan bakal membenahi sistem penataran yang menjadi kewenangan pengprov. “Untuk meminimalkan hal seperti ini, di penataran level bawah, tidak ada lagi sistem katrol nilai,” tandasnya.
Sebenarnya, bukan HNRC saja aktivitas DBL Indonesia untuk mengembangkan basket tanah air di luar kompetisi basket pelajar yang mereka selenggarakan. Sebelumnya, mereka sudah mengadakan penataran untuk pelatih dan wasit di lingkup Jatim. DBL Indonesia juga pernah mendatangkan pelatih dan bintang NBA untuk menularkan ilmu kepada para pemain dan pelatih tingkat SMA se-Indonesia. “Ini adalah bentuk tanggung jawab kami terhadap pengembangan basket tanah air. Kami ingin pertumbuhan DBL juga diikuti basket secara keseluruhan di Indonesia,” tutur Direktur DBL Indonesia Azrul Ananda.